Minggu, 28 September 2014

FILSAFAT 8 (JUMAT, 26 SEPTEMBER 2014)

MANUSIA & AFEKTIFITASNYA | KEBEBASAN


Kekayaan Dan Kompleksitas Afektifitas Manusia

Afektifitaslah yang membuat manusia "berada" di dunia, berpartisipasi dengan orang lain. Afektifitaslah yang mendorong orang untuk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif. Cara hadir kita di dunia diperdalam oleh afektifitas. Yang membedakan manusia dengan tumbuhan adalah afektifitasnya.
Seluruh kehidupan afektif berputar pada 2 kutub yang bertentangan satu sama lain:
-Mengarah kepada objek karena menyukainya, atau
-Berpaling karena tidak menyukainya/dianggap buruk

Cinta = buah afektifitas positif
Benci = buah afektifitas negatif
Sebenarnya, cintalah yang paling dasariah

Terhadap objek yang disukai nya, yang dianggap berguna, disebut cinta utilitaris/bermanfaat.

Bagaimana sikap subjek dapat ditentukan secara afektif oleh obyeknya ?

Membedakan "perasaan" dan "emosi".
Kehidupan afektif memperlihatkan macam-macam cara yang berbeda-beda menurut bagaimana subyek menguasai obyek.
Keadaan afektif yang bermacam-macam ini disebut "hasrat-hasrat jiwa" (Thomas Aquinas).
Meninjau ciri khas kebenaran afektifitas yang disebut "suasana hati".

Apa yang bukan perbuatan afektif ?

Cinta membuktikan diri dalam perbuatan. Cinta mendahului perbuatan..
Afektifitas tidak sama dengan kesanggupan merasa.
Afektifitas bukan hanya merasa, tapi juga menyangkut hal yang spiritual

Apa yang merupakan perbuatan afektif ?

Hidup afektif/afektifitas adalah seluruh perbuatan afektif yang dilakukan subjek sehingga ditarik oleh obyek, ataupun sebaliknya. Perbuatan afektif sedikit mirip dengan "perbuatan mengenal" karena dianggap perbuatan vital/imanen. Hanya saja perbuatan afektif lebih pasif, dimana "perbuatan mengenal" lebih membuka diri terhadap objek.

Kondisi afektifitas manusia

Agar ada afektifitas, perlu ada suatu ikatan kesamaan antara subjek dan objek perbuatan afektifnya.
Kesenangan yaitu perasaan yang dialami subjek bila dia dihinggapi oleh keadaan berada lebih baik.

Catatan Tentang Cinta Akan Diri, Sesama, dan Tuhan

Cinta akan diri sendiri dianggap sebagai egoisme, padahal tidak. Hanya orang yang bisa mencintai orang lainlah yang bisa mencintai diri sendiri. Egoisme berarti menolak setiap perhatian otentik terhadap orang lain.

Jika kita mencintai Tuhan, bukan berarti kita mengasingkan diri dari diri sendiri. St. Agustinus berkata, Tuhan adalah pokok pangkal kepribadian kita masing-masing.
Tuhan adalah transenden dan imanen. Dia melampaui segala sesuatu dan selalu dekat dengan kita. Ia adalah dasar dalam mana semua manusia saling berkomunikasi.

KEBEBASAN

JIWA DAN KEBEBASAN


Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara penuh di dunia dan memampukan manusia menentukan perbuatannya. Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas. Karena jiwalah manusia menjadi makhluk bebas. Kebebasan merupakan kebutuhan mendasar manusia.
"Sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan kebebasan"
Erich Fromm, The Fear of Freedom 1960
Kebebasan tidak bisa lepas dari eksistensi manusia.

Pandangan Determinisme

Determinisme adalah aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia.
Seluruh kegiatan manusia di dunia berjalan menurut keharusan yang bersifat deterministik, misal:
-Determinisme fisik-biologis
-Determinisme psikologis
-Determinisme sosial
-Determinisme teologis

Pandangan Kebebasasan sebagai eksistensi manusia

Menyatakan kelemahan-kelemahan determinisme:
  • Menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia
  • Menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya
  • Menafikan adanya tanggung jawab

Kebebasan sebagai eksistensi manusia, apa argumennya ?

  • Manusia hidup dalam "kemungkinan dapat", dan selalu berhadapan dengan pilihan berbeda yang memiliki bobot masing-masing
  • Adanya tanggung jawab. Bagaimana bila semua orang melakukan semaunya sendiri? Hanya mereka yang bebaslah yang dapat bertanggung jawab.
  • Makna perbuatan moral ada pada kebebasan

APA ARTI KEBEBASAN ?

  • Pengertian umum
    • Kebebasan adalah kebebasan negatif, tidak ada hambatan (paksaan, halangan, aturan)
  • Pengertian khusus
    • Kebebasan merupakan penyempurnaan diri (filsafat proses Whitehead).
    • Kesanggupan memilih dan memutuskan
    • Kebebasan eksistensial: Manusia bebas memilih demi dirinya sendiri
      • Merupakan kemampuan untuk mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan

JENIS-JENIS KEBEBASAN

  • Horizontal -> kesenangan, kesukaan, spontan, pertimbangan intelektual
  • Vertikal -> pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai
  • Eksistensial -> positif, lambang martabat manusia
  • Sosial -> terkait dengan orang lain
Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial:
  • melibatkan pertimbangan
  • mengedepankan nilai kebaikan
  • menghidupkan otonomi, terutama bagi diri sendiri
  • menyertakan tanggung jawab


Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis dan normatif, alasannya:
  • menyertakan pengertian
  • memberi ruang bagi kebebasan eksistensial
  • menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
  • terkait dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial

SEJARAH PERKEMBANGAN MASALAH KEBEBASAN

  • Filsafat Yunani tidak memberikan jawaban yang memuaskan karena:
    • Ada pandangan bahwa semua hal ditentukan oleh "nasib"
    • Masih kental dengan mitos tentang para dewa
    • Menurut pemikiran Yunani, manusia adalah bagian dari alam, maka manusia harus mengikuti hukum umum yang mengaturnya
    • Manusia terpengaruh oleh sejarah yang bergerak secara siklis
  • Zaman abad pertengahan
    • Kebebasan dilihat dalam prospektif Teosentrik (ke-Tuhanan)
  • Zaman modern
    • Teosentrik digantikan oleh Antroposentrik (ke-manusiaan)
  • Zaman kontemporer (zaman kini atau postmodernisme)
    • Kebebasan dipermasalahkan dari sudut pandang sosial
  • Kebebasan dalam pemikiran Timur
    • Membebaskan diri dari kendala keinginan egoistik dan dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri

1 komentar: